Rosihan Anwar

01 Aku Tidak Malu Jadi Orang Indonesia   02. Persku Sayang, Persku Malang
 

 

   ***************************************************************************************************************************

 

From : "Esther Gloria Noritha"
Subject : Rosihan Anwar


Rekan-rekan,
Mungkin bakal ada yg protes, tapi sekali-kali nggak
apa lah jika diberi semacam additive atau supplement
sebuah sajak dari Rosihan Anwar.

____________________________________________
 


Aku Tidak Malu Jadi Orang Indonesia

Aku tidak malu jadi orang Indonesia ...
Biar orang bilang apa saja, biar, biar ...
Indonesia negara paling korup di dunia
Indonesia negara gagal
Indonesia negara lemah
Indonesia melanggar HAM
Elite Indonesia serakah harta dan kekuasaan

Presiden-presiden Indonesia dilecehkan humoris
Dengarlah, Bung Karno dimanfaatkan komunis
Pak Harto dimanfaatkan putra-putrinya
Habibie dimanfaatkan konco-konconya
Gus Dur dimanfaatkan tukang pijitnya
Megawati dimanfaatkan suaminya

Catatlah, Bung Karno menciptakan keamanan dan
persatuan bangsa
Pak Harto menciptakan kemakmuran bangsa dan
keluarganya
Habibie menciptakan demonstrasi
Gus Dur menciptakan partai kebangkitan bangsa
Megawati menciptakan kenaikan-kenaikan harga

Alah mak, Bung Karno turun dari presiden karena
Supersemar
Pak Harto turun dari presiden karena superdemo
Habibie turun dari presiden karena supertransisi
Gus Dur turun dari presiden karena superskandal
Megawati turun-temurun jadi presiden

Maka Anda tahu sekarang kenapa Aku tidak malu jadi
orang Indonesia

Indonesia punya istilah-istilah khas di dunia korupsi
Ada ahli gizi yang Nurcholis Madjid tidak mampu penuhi
Ada istilah angpao untuk uang atensi
Ada amplop untuk bikin kocek tebal berisi
Ada saweran duit untuk membayar pengacara hitam dan
menyuap aparat hukum
Ada prosedur untuk menilep uang rakyat dan institusi
dilakukan
beramai-ramai oleh gubernur, bupati, walikota, anggota
DPRD dan DPR
Ada tren yang kuat menguasai kaum koruptor

Simaklah sejarah bangsa dan Tanah Air
Semenjak dulu zaman kompeni
Pegawai VOC kirim laporan Kepada Heren Zeventien di
Tanah Wolanda

Elke Regent Heeft zijn Chinees
Tiap Bupati punya orang Cinanya
Maknanya jelas pejabat feodal dihidupi pedagang Cina

Syahdan, Susuhunan Amangkurat II dari Mataram
Mengutus misi sembilan duta ke Batavia
Minta kepada Bapak Kompeni
Agar dikirimi cinderamata
Mulai dari ayam Belanda, kuda Persia hingga gadis
Makassar
Jangan lupa putri Cina untuk jadi selir Raja

Kraton Kartasura menebar bau korupsi, seks dan duit
Ditambah intrik-intrik kalangan pangeran
Bagaimana kerajaan tidak akan binasa?

Itulah warisan sejarah dari generasi ke generasi
Sehingga yang tampak kini di bumi persada Pertiwi
Adalah kiriman genetik kepada kita semua
Anda dan aku tidak terlepas dari hukumnya
Maka Anda tahu sekarang kenapa

Aku tidak malu jadi orang Indonesia
Sebab memang begitulah nasibku
Kismet, kata orang bijak-bestari

Korupsi adalah sejenis vampir
Makhluk halus bangkit kembali dari kubur
Kemudian keluar pada malam hari
Dan mengisap darah manusia yang sedang tidur
Di layar film Hollywood wujudnya adalah Count Dracula
yang bertaring
Diperankan aktor Bela Lugosi
Vampir yang hilang kesaktiannya bila terkena sinar
matahari
Akan tetapi drakula-drakula Indonesia tetap perkasa
Beroperasi 24 jam, ya malam ya siang mencari korban

Sehingga sia-sialah aksi melawan korupsi membasmi
drakula
Yang telah merasuki rongga dan jiwa aparat negara
Yang membuat media memberitakan
Akibat bisnis keluarga pejabat, Tutut-Tutut baru
bermunculan.
Aku orang terpasung dalam terungku kaum penjarah harta
negara
Akan aneh bila berkata aku malu jadi orang Indonesia

Sorry ya, Aku tidak malu jadi orang Indonesia
Kuhibur diri dengan sajakku magnus opus karya sang
Empu
Sajak pendek yang berbunyi:
Katakan beta
Manatah batas
Antar gila Dengan waras

Sorry ya, inilah puisiku melawan korupsi
Siapa takut?
____________________________________________

H Rosihan Anwar. Penulis adalah seorang wartawan senior (Dibacakan pada acara Deklamasi Puisi di Gedung
Da'wah Muhammadiyah di Jakarta, 31 Desember 2004. Juga dibacakan dalam acara pertemuan keluarga wartawan
senior di rumah penulis pada tanggal 9 Januari 2005, di Jakarta)
____________________________________________

Persku Sayang, Persku Malang

Aku bagaikan 'alien'
Penduduk planet lain
Tamu angkasa luar yang dengan kendaraan piring terbang
UFO
Mendarat di bumi Anno 2005
Begitulah dengan imajinasi seniman kurang lebih
perasaanku
Tatkala melihat pers Indonesia kini
Lalu membandingkan dengan 50 tahun silam
Alangkah bedanya!

Kulihat penampilan surat kabar sekarang
Halamannya sampai berpuluh-puluh banyaknya
Cetakannya rapi, in technicolor, amat cemerlang
Hurufnya canggih, sampai teks mini-ads pun dapat
dibaca
Iklannya melimpah ruah mendatangkan banyak fulus
Kubanding koran jaman liberal
Halamannya cuma empat doang
Wujudnya sedikit lebih daripada koran jaman revolusi
yang pakai kertas merang
Iklannya secuil, akibatnya mafis fulus
Alangkah bedanya!

Kulihat penerbitan porno memasuki pasar dengan leluasa
Gambar buka-bukaan dijajakan tanpa malu
Tidak perdu apakah dampaknya merusakjiwa
Dan akhlak generasi muda
Bagi penerbitnya yang penting
Produk laku, dan uang masuk pasti laku
Untuk selebihnya:
I don't care about moraty!

Kuamati pers Indonesia sekarang
Tergolong pers yang bebas di dunia
Tiada lagi terpasung seperti di zaman
Soeharto dan Soekarno
Yang seenaknya membredel dan membunuh
Surat kabar / majalah
Sebab kedua presiden itu bers mboyan:
I don't care about democracy!

Kuamati juga pers Indonesia yang bebas itu
Tidak disukai oleh kekuatan-kekuatan persekutuan
Kaum kuasa politik dengan kaum kuasa uang
Yang dengan cara terbuka dan tersembunyi
Mau mengendalikan lagi pers dan wartawan
Seperti di zaman demokrasi terpimpin ala Soekarno
Atau di zaman demokrasi Pancasila ala Soeharto

Kucatat pers Indonesia berkembang sesuai kodratnya
Ada yang maju menjadi konglomerat multi-media
Dengan gejala baron-baron pers
Dengan wadah grup-grup yang menggurita
Ada pula yang layu, mati berguguran
Karena tidak mampu bersaing dalam pertarungan pasar
bebas

Kucatat kondisi situasi wartawan Indonesia
Ada yang posisi ekonominya bagus
Karena bekerja pada koran yang telah mantap
Ada yang posisi kerjanya bagaikan hamba sahaya
Dalam hubungan dengan majikan bos
Ada yang punya kebebasan bergerak yang lumayan
Tapi ada pula yang sampai tidak tidak bisa menghadiri
Porwanas
Karena dilarang oleh bos group ikut
Siapa takut?

Kucatat wartwan tempo dulu bersemboyan
'Nasionalis dulu, baru jurnalis'
Sedang wartawan di jaman globalisasi berpedoman
'Makan dulu, baru wartawan'
Kesenjangan makin menganga
Antara wartawan credit card dengan wartawan amplop /
melarat
Sehingga setia kawan
Solidarita semakin langka dan gawzt
Dulu idealisme masih berperan dalam kehidupan wartawan
Kini pertimbangan materialisme
Makin dominan dalam benak wartawan
Alangkah bedanya!

Kutanyakan apakah keadaan tidak tertolong lagi
Sehingga wartawan Indonesia bersikap nafsi-nafsi
Hanya mementingkan diri sendiri
Dan tiada sentitif terhadap perasaan penderitaan
Rekan-rekannya yang dilanggar tsunami di Aceh dan
Sumatera Utara?

Kutanyakan apakah wartawan Indonesia
Dapat menjadi penyambung lidah rakyat
Yang mendambakan suatu masyarakat berakhlak, adil,
makmur?
Yang tiap saat berkata kepada rakyat:
I care, I do care about you

Wal awalu wal akhiru
Aku kembali kepada hal pokok
Menyangkut pesan misteri hidup
Tapi terlebih dulu sebuah pantun:

Ayam putih kalau disabung
Kalau disabung patah tajinya
Orang putih kalau dicium
Kalau dicium merah pipinya

Limau manis enak rasanya
Dimakan orang bulan Puasa
Sambutan manis Pekan Baru pada kita
Akan jadi kenangan sepanjang masa

Dan kini pesannya
Sebagai dimaklumi di batu nisan Sultan Malikus Saleh
Yang memerintah kerajaan Islam Samudra Pasai di Aceh
abad ke-13
Tertera kata-kata arif berikut:

Sesungguhnya dunia ini fana
Dunia ini tidaklah kekal
Sesungguhnya dunia ini ibarat
Sarang yang ditenun laba-laba

Demi sesungguhnya memadailah dunia ini
Wahai engkau yang mencari kekuasaan
Hidup ini masa pendek saja
Semuanya tentu akan mati

Pekan Baru, 9 Februari 2005
Dibuat dalam rangka Hari Pers Nasional

Penulis adalah wartawan senior

 ___________________________________________

[Back]                                                                               

 

[Soneta Indonesia][Puisi Parakanca]

 Copyright©soneta.org 2004  
 For problems or questions regarding this web contact
[admin@soneta.org] 
Last updated: 16/06/2015